TERNATE_IP– Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Ternate menyatakan siap mengerahkan sedikitnya 500 kader dari 19 komisariat untuk menggelar aksi besar-besaran mengawal tujuh tuntutan rakyat Maluku Utara.
Aksi yang dijadwalkan berlangsung Senin besok disebut sebagai bentuk perlawanan terhadap berbagai persoalan yang dinilai terus membebani masyarakat di tengah melimpahnya kekayaan sumber daya alam daerah.
Ketua Bidang Perguruan Tinggi, Kemahasiswaan dan Pemuda (PTKP) HMI Cabang Ternate, Yusril J. Todoku, menegaskan bahwa mahasiswa tidak boleh diam ketika rakyat menghadapi tekanan ekonomi, ketidakadilan fiskal, lemahnya penegakan hukum, hingga ancaman kerusakan lingkungan.
Menurut Yusril, Maluku Utara sedang menghadapi sebuah paradoks besar. Daerah ini menjadi salah satu lumbung pertumbuhan ekonomi nasional dan penyumbang signifikan bagi penerimaan negara dari sektor pertambangan, namun kesejahteraan masyarakat dinilai belum berjalan seiring dengan besarnya kekayaan alam yang dieksploitasi.
“Rakyat masih membeli BBM dengan harga tinggi, kebutuhan pokok terus naik, sementara berbagai persoalan hukum dan lingkungan tak kunjung terselesaikan. Ini ironi yang tidak boleh terus dibiarkan,” tegasnya, Minggu (14/6/2026).
Karena itu, HMI memutuskan turun ke jalan membawa tujuh tuntutan yang dianggap mewakili keresahan masyarakat Maluku Utara. Mulai dari dugaan praktik persekongkolan distribusi BBM, tingginya beban ekonomi rakyat, ketimpangan fiskal bagi daerah penghasil sumber daya alam, lemahnya penegakan hukum, penyelesaian sejumlah kasus yang menjadi perhatian publik, perlindungan lingkungan hidup, hingga penolakan terhadap kebijakan dan investasi yang berpotensi merugikan masyarakat.
Yusril menegaskan aksi tersebut bukan sekadar demonstrasi rutin mahasiswa, melainkan peringatan terbuka kepada pemerintah dan aparat penegak hukum agar tidak menutup mata terhadap berbagai persoalan yang terus berulang.
“Ketika daerah menghasilkan triliunan rupiah dari sumber daya alamnya, rakyat seharusnya merasakan manfaat yang adil. Jika ketimpangan terus dipertahankan, maka mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk bersuara,” katanya.
HMI juga mengajak masyarakat, pemuda, organisasi kemasyarakatan, dan seluruh elemen sipil untuk ikut mengawal perjuangan tersebut. Mereka menilai masa depan Maluku Utara tidak boleh hanya diukur dari angka investasi dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari sejauh mana kesejahteraan, keadilan, dan kelestarian lingkungan dapat dirasakan masyarakat.
Aksi yang akan digelar itu diperkirakan menjadi salah satu konsolidasi mahasiswa terbesar di Ternate tahun ini.
Bagi HMI, perjuangan tersebut bukan sekadar menyampaikan tuntutan, melainkan mengingatkan para pemegang kekuasaan bahwa di balik gemerlap industri tambang dan angka pertumbuhan ekonomi, masih ada suara rakyat yang menunggu untuk didengar.













