Berita  

Dari Jantung Tambang Gosowong, NHM Gaungkan Aksi Iklim dan Pemulihan Ekosistem

Foto: Suasana penanaman pohon oleh NHM
Foto: Suasana penanaman pohon oleh NHM

HALMAHERA UTARA_IP– Di tengah semakin nyata ancaman perubahan iklim global, PT Nusa Halmahera Minerals (NHM) memilih menjawab tantangan itu dengan langkah konkret.

Menyambut Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, perusahaan pengelola Tambang Emas Gosowong tersebut menggelar serangkaian aksi lingkungan yang tidak sekadar bersifat serimonial, melainkan diarahkan untuk memperkuat upaya pemulihan ekosistem dan membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga bumi.

Mengusung tema global “Inspired by Nature. For Climate. For Our Future” yang diperkuat melalui kampanye #NowForClimate, NHM mengajak seluruh insan Gosowong mengambil peran aktif dalam aksi iklim melalui langkah-langkah sederhana namun berkelanjutan.

Rangkaian kegiatan diawali pada 2 Juni 2026 dengan penanaman puluhan pohon buah di kawasan Yard 2 Tambang Gosowong. Kegiatan tersebut melibatkan jajaran Senior Leader Team (SLT) bersama perwakilan berbagai departemen sebagai simbol komitmen bersama dalam membangun lingkungan yang lebih hijau.

Sebanyak 40 bibit pohon buah ditanam, mulai dari matoa, duku, mangga, rambutan, durian hingga kelengkeng. Sebagian di antaranya merupakan bibit lokal yang berasal dari kawasan hutan Gosowong, sebuah langkah yang sekaligus memperkuat pelestarian keanekaragaman hayati lokal.

Bagi NHM, penanaman pohon tidak hanya dimaknai sebagai penghijauan semata. Lebih jauh, kegiatan tersebut menjadi bagian dari strategi pemulihan habitat alami satwa liar di sekitar area operasional perusahaan.

Superintendent Lingkungan NHM, Rosmini Djufry, menjelaskan bahwa sebagian besar bibit yang ditanam merupakan hasil okulasi yang memungkinkan pertumbuhan lebih cepat dan masa berbuah yang lebih singkat.

“Tujuan utama penanaman pohon buah ini adalah menyediakan sumber pakan alami sehingga dapat menarik kembali fauna ke area tersebut,” ujar Rosmini.

Menurut dia, program tersebut juga menjadi bagian dari upaya menghidupkan kembali kawasan eks kantong satwa di Yard 2 yang selama beberapa waktu belum berfungsi optimal.

Berdasarkan hasil survei Tim Biodiversity NHM, populasi fauna yang teridentifikasi di kawasan itu masih lebih rendah dibandingkan dua kantong satwa lainnya sehingga peningkatan kualitas habitat menjadi prioritas utama.

Komitmen lingkungan itu mencapai puncaknya pada 5 Juni 2026 melalui Apel Kehormatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang digelar di Lapangan Sepak Bola Tambang Gosowong. Ratusan karyawan bersama jajaran manajemen mengikuti kegiatan tersebut sebagai bentuk refleksi sekaligus penguatan komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan.

Wakil Direktur Operasi sekaligus Kepala Teknik Tambang (KTT) NHM, Rado Lawolo, yang bertindak sebagai inspektur upacara, mengajak seluruh pekerja menjadikan kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari budaya kerja sehari-hari.

Mengacu pada Surat Edaran Kementerian Lingkungan Hidup, Rado menegaskan bahwa tema “Saatnya Bekerja untuk Iklim” harus diterjemahkan ke dalam tindakan nyata di setiap lini pekerjaan.

“Perubahan besar di tingkat global selalu berawal dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. Setiap individu di Gosowong memiliki kontribusi penting dalam mendukung aksi iklim dan menjaga keberlanjutan lingkungan,” kata Rado.

Ia meyakini bahwa gerakan yang dimulai dari komunitas kerja terkecil dapat melahirkan dampak besar dalam mendukung pemulihan lingkungan, pengurangan emisi karbon, pengelolaan sampah yang lebih baik, hingga peningkatan kemampuan adaptasi terhadap perubahan iklim.

Selain penghijauan, NHM juga menggelar Lomba Tata Graha (Housekeeping) antar-departemen. Program tersebut dirancang untuk memperkuat budaya kerja yang bersih, tertib, aman, dan peduli lingkungan sebagai bagian dari implementasi praktik pertambangan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.

Melalui rangkaian kegiatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 ini, NHM kembali menegaskan bahwa keberhasilan industri pertambangan tidak hanya diukur dari capaian produksi, tetapi juga dari kemampuannya menjaga keseimbangan antara aktivitas operasional dan kelestarian lingkungan.

Dari kawasan tambang di Gosowong, pesan itu kembali digaungkan, menjaga bumi bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau komunitas lingkungan, melainkan tugas bersama yang harus dimulai hari ini demi masa depan yang lebih hijau, sehat, dan berkelanjutan,”(EWS).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *