MANGOLI_IP– Sudah memasuki hari ketiga pasca banjir bandang yang dialamai warga Desa Waisakai Kecamatan Mangoli Utara Timur, Sabtu (14/3/2026). Bupati dan wakil bupati Kabupaten Kepulauan Sula Hj. Fifian Adeningsi Mus dan Hi. Saleh Marasabessy belum juga turun ke lokasi yang terkena dampak. Hal semacam ini semestinya menjadi pembelajaran penting bagi semua kepala daerah dan wakil kepala daerah karena memegang jabatan publik kiranya kepentingan publik yang harus dan wajib diutamakan apalagi terkait bencana.
Presiden Republik Indonesia Bpk. Prabowo Subianto sudah pernah memberikan arahan tegas kepada kepala daerah dan wakil kepala daerah untuk menjadi menjadi pimpinan utama koordinasi penanganan darurat jadi wajib tetap berada di lapangan saat bencana melanda.
Hal yang sama juga juga ditekankan menteri dalam negri, lewat Bima Arya Sugiarto selaku wakil menteri dalam negeri bahwa pentingnya kepala daerah dan wakil kepala daerah, terutama saat terjadi kondisi darurat atau bencana,”ujar Bima.”
Ketidakhadiran kepala daerah dilokasi bencana menjadi perhatian serius pemerintah pusat. Perlu untuk dilakukan investigasi alasan kenapa ketidakhadiran tersebut. Contoh kasus bupati Aceh Selatan Mirwan MS saat menunaikan ibadah umroh ditengah bencana banjir.” Lanjut Bima.”
Ini berarti kepala daerah memperlihatkan cacat dasar dalam praktik kepemimpinan pemerintahan di daerah. Dan tak hanya soal waktu yang tidak tepat, tetapi juga pelanggaran terhadap etika publik dan ketentuan Undang-undang Pemda no. 23 Tahun 2014 yang sangat jelas mengatur tentang larangan kepala daerah.
Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kepulauan Sula Hi. Samsudin Ode Maniwi saat dikonfirmasi belum kantongi data yang valid pasca banjir bandang dengan alasan izin berobat ke Bandung karena sakit. Sedangkan sekretaris BPBD Masni sendiri beralasan tidak berada di lokasi banjir sehingga tidak memiliki data-data di lapangan.
Untuk diketahui, laporan dari Adi Yudhistira, ST ketua tim Reaksi Cepat BPBD Sula bahwa sebanyak 90 Kepala Keluarga (KK) dengan total 335 jiwa terkena dampak banjir bandang. 13 kepala keluarga diungsikan ke SD Negeri Waisakai, 2 kepala keluarga di sekolah Madrasah Tsanawiyah Waisakai dan sisa lainnya memilih mandiri di rumah keluarga,”(Ewis).












