Berita  

Hasby Yusuf Kobarkan Semangat Mahasiswa Baru Fakultas Hukum Unkhair, Jadilah Penjaga Keadilan, Bukan Pewaris Penyimpangan

Orasi ilmiah anggota DPD RI Hasby Yusuf di hadapan mahasiswa baru Fakultas Hukum Unkhair Ternate
Orasi ilmiah anggota DPD RI Hasby Yusuf di hadapan mahasiswa baru Fakultas Hukum Unkhair Ternate

TERNATE_IP– Anggota DPD RI asal Maluku Utara, Hasby Yusuf, mengajak mahasiswa baru Fakultas Hukum Universitas Khairun (Unkhair) Ternate untuk menjadikan bangku kuliah sebagai tempat menempa integritas, bukan sekadar mengejar gelar akademik. Dalam orasi ilmiahnya di hadapan ratusan mahasiswa baru, Hasby menegaskan bahwa Indonesia membutuhkan sarjana hukum yang berani berdiri di garda terdepan membela keadilan, terutama bagi masyarakat yang lemah dan kerap dilemahkan.

“Di kampus ini, adik-adik tidak hanya akan belajar pasal demi pasal. Kalian akan dibimbing menjadi insan yang memahami hukum, menghayati nilai-nilainya, dan mampu menegakkan keadilan dengan hati nurani,” ujar Hasby.

Ia berharap para mahasiswa baru kelak menjadi generasi yang mengembalikan marwah hukum sebagai alat menghadirkan keadilan, bukan sekadar instrumen kekuasaan.

Untuk menanamkan nilai tersebut, Hasby mengisahkan teladan agung Rasulullah SAW tentang keadilan yang tidak mengenal kedekatan keluarga maupun status sosial. Ia mengutip sabda Nabi Muhammad SAW:

“Demi Allah, seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku sendiri yang akan memotong tangannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Menurut Hasby, sabda Rasulullah itu merupakan doktrin moral yang harus dipegang setiap calon penegak hukum.

“Pesan itu mengajarkan bahwa hukum tidak boleh tunduk kepada nasab, jabatan, maupun kekuasaan. Semua manusia memiliki kedudukan yang sama di hadapan hukum. Tidak boleh ada perlakuan istimewa kepada siapa pun,” tegasnya.

Hasby kemudian mengajak mahasiswa baru untuk menjadi motor penggerak lahirnya sistem hukum yang bersih dan berkeadilan di Indonesia. Ia mengakui, dinamika penegakan hukum belakangan ini kerap mengecewakan publik karena masih muncul berbagai dugaan penyimpangan yang melibatkan aparat penegak hukum. Meski demikian, ia optimistis perubahan besar akan lahir dari ruang-ruang kuliah.

“Saya percaya, di ruangan ini sedang duduk calon-calon hakim, jaksa, advokat, akademisi, dan pemimpin masa depan yang akan mengubah wajah hukum Indonesia menjadi lebih bermartabat,” katanya disambut tepuk tangan peserta.

Hasby juga mengingatkan agar mahasiswa menjaga nama baik almamater. Menurutnya, Fakultas Hukum harus melahirkan lulusan yang dikenal karena integritasnya, bukan karena penyimpangan perilaku.

“Jangan pernah mempermalukan Fakultas Hukum. Kalian adalah produk sah dari lembaga yang akan mencetak penjaga keadilan. Ilmu hukum yang kalian pelajari adalah senjata untuk membela kebenaran, bukan alat membenarkan kesalahan,” pesannya.

Di penghujung orasinya, Hasby menegaskan bahwa persoalan utama dalam berbagai praktik penyimpangan hukum bukanlah kurangnya kecerdasan. Banyak pelaku pelanggaran hukum justru berasal dari kalangan yang berpendidikan tinggi.

“Yang kurang bukan kecerdasan mereka, tetapi moral, akhlak, dan agama. Karena itu, setebal apa pun KUHP, KUHAP, dan berbagai peraturan perundang-undangan yang kalian pelajari, semuanya tidak akan bermakna jika tidak dipandu oleh navigasi moral, akhlak, dan nilai-nilai agama,” tutup Hasby.

Orasi tersebut menjadi penutup yang menggugah, sekaligus mengirimkan pesan kuat kepada mahasiswa baru bahwa perjalanan mereka di Fakultas Hukum bukan hanya untuk menjadi ahli hukum, tetapi juga menjadi penjaga nurani bangsa dan pelopor tegaknya keadilan di Indonesia,”(tim/red).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *