SANANA_IP– Aroma tak sedap dari proyek pembangunan Puskesmas Waiipa mulai menyeruak ke permukaan. Di tengah dalih efisiensi anggaran, Kejaksaan Negeri (Kejari) Kepulauan Sula justru tancap gas membuka penyelidikan dugaan korupsi yang mengintai proyek layanan kesehatan di Desa Waiipa, Kecamatan Sanana, Kamis, 23 April 2026, sekitar pukul 14.00 WIT, Kejari Kepulauan Sula mengumumkan langkah awal yang bisa menjadi pintu masuk pembongkaran kasus.
Dengan mengantongi Surat Perintah Penyelidikan Nomor: Print-016/Q.2.14/Fd.1/04/2026, tim penyidik resmi bergerak menyisir proyek yang dibiayai dari Tahun Anggaran 2024 hingga 2025 itu.
Nama mantan Kepala Dinas Kesehatan Kepulauan Sula, Suryati Abdullah, langsung masuk radar. Ia tidak sendiri. Enam orang lainnya, termasuk pihak kontraktor pelaksana, juga bakal dipanggil. Ini bukan sekadar klarifikasi administratif, ini sinyal awal bahwa aparat mulai mencium sesuatu yang lebih dari sekadar kelalaian teknis.
“Pemanggilan akan dilakukan berhadap pihak dinas kesehatan dan kontraktor pelaksana kegiatan,” Juliantoro.
Namun, publik pantas bertanya, mengapa proyek fasilitas kesehatan yang seharusnya menyentuh kebutuhan dasar masyarakat justru terseret ke pusaran dugaan korupsi? Apa yang sebenarnya terjadi di balik pembangunan Puskesmas Waiipa?
Tim penyelidik disebut tengah mengumpulkan serpihan fakta untuk memastikan ada atau tidaknya peristiwa pidana.
Tapi pengalaman menunjukkan, fase “penyelidikan” kerap menjadi wilayah abu-abu: antara keseriusan membongkar kasus atau sekadar formalitas prosedural.
Kejari Sula, Juliantoro Hutapea mengklaim langkah ini sebagai bentuk komitmen dalam menangani tindak pidana korupsi yang menyangkut hajat hidup orang banyak.
Pernyataan itu terdengar tegas. Tapi ujian sesungguhnya bukan pada kata-kata melainkan pada keberanian menelusuri siapa saja yang terlibat, sejauh apa praktiknya, dan apakah kasus ini akan berhenti di level pelaksana atau justru merambat ke lingkaran pengambil kebijakan.
Kasus Puskesmas Waiipa kini memasuki babak awal. Satu per satu nama akan dipanggil. Pertanyaannya: apakah ini benar-benar awal dari pembongkaran skandal, atau sekadar riak yang akan kembali tenggelam? (EWS)













