TERNATE_IP– Kehadiran Anggota DPD RI asal Maluku Utara, Hasby Yusuf, di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Khairun Ternate menjadi momen yang dinilai istimewa oleh sivitas akademika. Bukan semata karena kapasitasnya sebagai tokoh nasional, melainkan karena kepeduliannya yang konsisten terhadap dunia pendidikan, kebudayaan, dan penguatan tradisi literasi di daerah.
Di tengah derasnya arus informasi digital, Hasby mengingatkan bahwa peradaban besar tidak hanya dibangun melalui pembangunan fisik, tetapi juga melalui budaya membaca, menulis, dan melahirkan gagasan yang terdokumentasi dalam karya-karya ilmiah maupun buku.
Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Khairun, Nurain Jalaluddin, S.S., M.A mengungkapkan, dalam perjalanan sejarah fakultas tersebut, baru kali ini seorang tokoh nasional datang secara khusus untuk berdialog dengan mahasiswa sekaligus memberikan perhatian terhadap pengembangan akademik dan kebudayaan.
Menurutnya, meskipun Hasby Yusuf beraktivitas di Jakarta sebagai anggota DPD RI, ia tidak pernah melupakan almamater dan kampus-kampus di daerah, khususnya Universitas Khairun yang menjadi salah satu pusat pengembangan ilmu pengetahuan di Maluku Utara.
“Kehadiran beliau bukan sekadar kunjungan seremonial. Ini menjadi suntikan semangat sekaligus harapan baru bagi mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya agar terus percaya diri mengembangkan potensi, memperkuat tradisi intelektual, dan berani melahirkan karya-karya yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Dekan dalam sambutannya.
Dalam kuliah umum yang berlangsung hangat, Hasby Yusuf menyampaikan pesan reflektif kepada para mahasiswa bahwa setiap langkah yang mereka tempuh di bangku kuliah sesungguhnya memikul amanah yang sangat besar.
Menurutnya, keberhasilan seorang mahasiswa bukan hanya menjadi cita-cita pribadi, tetapi juga harapan keluarga, masyarakat, bangsa, bahkan bagian dari tanggung jawab moral kepada agama.
“Di pundak kalian ada harapan pribadi, harapan orang tua, harapan bangsa, dan juga amanah agama. Karena itu, gunakan masa kuliah untuk menempa diri, memperluas wawasan, serta membangun integritas. Saya berharap kalian semua kelak menjadi orang-orang hebat di bidang masing-masing, yang mampu memberi manfaat bagi daerah dan Indonesia,” kata Hasby.
Ia juga memberikan perhatian khusus terhadap penguatan budaya literasi. Menurut Hasby, bangsa yang kuat selalu ditopang oleh masyarakat yang gemar membaca dan produktif menulis. Karena itu, mahasiswa tidak boleh berhenti hanya menjadi pembaca, tetapi juga harus berani menjadi penulis yang mampu mendokumentasikan gagasan, hasil penelitian, sejarah lokal, hingga nilai-nilai kebudayaan agar tidak hilang ditelan zaman.
Sebagai bentuk komitmen nyata, Hasby menyatakan siap memberikan dukungan kepada para penulis, khususnya kalangan akademisi, dosen, mahasiswa, maupun penulis muda di Maluku Utara yang memiliki naskah berkualitas namun menghadapi keterbatasan dalam proses penerbitan.
Menurutnya, banyak gagasan bernilai yang akhirnya hanya tersimpan di komputer atau rak perpustakaan karena minimnya dukungan publikasi. Kondisi tersebut perlu diubah agar karya intelektual dari daerah dapat dikenal lebih luas dan menjadi bagian dari khazanah ilmu pengetahuan nasional.
“Buku adalah investasi peradaban. Satu buku dapat melahirkan ribuan gagasan, menginspirasi banyak orang, dan menjadi warisan intelektual yang melampaui usia penulisnya. Karena itu saya ingin mendorong lahirnya semakin banyak penulis dari Maluku Utara, sekaligus membantu proses penerbitan buku agar karya-karya mereka dapat dibaca masyarakat luas,” ujar Hasby.
Komitmen tersebut disambut positif oleh sivitas akademika Fakultas Ilmu Budaya. Dukungan terhadap literasi dan penerbitan buku dinilai menjadi langkah strategis dalam memperkuat ekosistem akademik sekaligus menjaga identitas kebudayaan Maluku Utara melalui dokumentasi yang ilmiah, sistematis, dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
Di tengah tantangan rendahnya minat baca dan menulis, inisiatif semacam ini diharapkan mampu melahirkan generasi intelektual yang tidak hanya unggul dalam wacana, tetapi juga produktif menghasilkan karya yang memperkaya peradaban Indonesia,”(tim/red).













